Deskripsi
Tapai/ Tape
Tapai atau tape adalah
kudapan yang dihasilkan dari proses fermentasi
bahan pangan berkarbohidrat sebagai substrat oleh ragi. Di Indonesia dan negara-negara tetangganya,
substrat ini biasanya umbi singkong
dan beras ketan.
Jenis
tapai
- Tapai Singkong ini adalah tape yang terbuat dari Bahan Dasar Singkong makanan ini sangat mudah didapat saat kita berada di daerah Bangung atau di daerah Jawa Barat lainnya, namun umumnya Tape Singkong ini berada Di Daerah Bandung, masyarakat Sunda Sendiri Sering menyebutnya Peyeum Bandung
- Tape Uli Tape ini terbuat dari Beras ketan, dan ada juga yang terbuat dari Beras Ketan Hitam, makanan ini akan mudah kita jumpai di Daerah Sunda, Seperti Di Jakarta Bandung Sukabumi Cianjur atau Bahkan Di Daerah lainnya di Luar Pulau Jawa
Tape Uli yang dibakar
- Peyeum/Tape ketan hitam makanan ini sangat sulit didapat ditempat umum, biasanya masyarakat Sunda Membuat peyeum pada saat-saat tertentu, Seperti Nikahan, Syukuran, Peyeum ini rasanya manis, yang terbuat dari ketan hitam yang difermentasikan dengan Ragi. akan sangat mudah kita jumpai di Daerah Cianjur, Sukabumi, Banten, Bandung, dan daerah lainya di Jawa Barat
Tape ketan hitan atau Peyeum
Pembuatan
tapai
Tapai ketan asal Kuningan,
Jawa Barat,
dibungkus daun jambu air.
Dalam pembuatan tapai ketan, beras ketan dimasak dan
dikukus terlebih dahulu sebelum dibubuhi ragi. Campuran tersebut dilindungi
dari udara terbuka dengan membungkusnya oleh daun dan diinkubasi
pada suhu 25-30 °C selama 2-4 hari. Daun yang digunakan bermacam-macam,
tergantung dari sumber daya yang tersedia, tetapi biasanya digunakan daun yang
lebar dan permukaannya licin. Tapai ketan yang siap dihidangkan biasanya
mengandung alkohol
dan teksturnya lebih lembut[2]. Daun yang
digunakan biasanya adalah daun pisang, namun di beberapa tempat daun lain juga
digunakan, misalnya daun jambu
(Sizygium) atau karet para
(Hevea brasiliensis).
Untuk membuat tapai singkong, kulit
umbi singkong harus dibuang terlebih dahulu. Umbi yang telah dikupas lalu
dicuci, dikukus, dan kemudian ditempatkan pada keranjang
bambu
yang dilapisi daun pisang. Ragi disebar pada singkong dan
lapisan daun pisang
yang digunakan sebagai alas dan penutup. Keranjang tersebut kemudian diperam
pada suhu 28 – 30 °C selama 2 – 3 hari.
Selain rasanya yang manis dan aroma
yang memikat, tapai juga dibuat dengan beberapa warna berbeda. Warna tersebut
tidak berasal dari pewarna buatan yang berbahaya, melainkan berasal dari
pewarna alami.[1]
Untuk membuat tapai ketan berwarna merah digunakan angkak, pigmen yang
dihasilkan oleh Monascus purpureus,
sedangkan tapai ketan warna hijau dibuat menggunakan ekstrak daun pandan.
Pembuatan tapai memerlukan
kecermatan dan kebersihan yang tinggi agar singkong atau ketan dapat menjadi
lunak karena proses fermentasi yang berlangsung dengan baik. Ragi adalah bibit jamur yang digunakan untuk
membuat tapai. Agar pembuatan tape berhasil dengan baik alat-alat dan
bahan-bahan yang digunakan harus bersih, terutama dari lemak atau minyak. Alat-alat
yang berminyak jika dipakai untuk mengolah bahan tapai bisa menyebabkan
kegagalan fermentasi.
Air
yang digunakan juga harus bersih; menggunakan air hujan bisa mengakibatkan
tapai tidak berhasil dibuat.
Pengaruh
konsumsi tapai bagi kesehatan
Keunggulan
tapai
Fermentasi tapai dapat meningkatkan
kandungan Vitamin
B1 (tiamina)
hingga tiga kali lipat[3]. Vitamin
ini diperlukan oleh sistem saraf,
sel otot, dan sistem pencernaan
agar dapat berfungsi dengan baik. Karena
mengandung berbagai macam bakteri “baik” yang aman dikonsumsi, tapai dapat digolongkan
sebagai sumber probiotik bagi tubuh.[4] Cairan
tapai dan tapai ketan diketahui mengandung bakteri asam laktat sebanyak ± satu juta per
mililiter atau gramnya. Produk fermentasi ini diyakini dapat memberikan efek
menyehatkan tubuh, terutama sistem pencernaan, karena meningkatkan jumlah
bakteri dalam tubuh dan mengurangi jumlah bakteri jahat.
Kelebihan lain dari tapai adalah
kemampuannya tapai mengikat dan mengeluarkan aflatoksin
dari tubuh. Aflaktosin merupakan zat
toksik atau racun yang dihasilkan oleh kapang, terutama Aspergillus flavus.
Toksik ini banyak kita jumpai dalam kebutuhan pangan sehari-hari, seperti
kecap.
Konsumsi tapai dalam batas normal diharapkan dapat mereduksi aflatoksin
tersebut.
Di beberapa negara tropis yang
mengonsumsi singkong sebagai karbohidrat utama, penduduknya rentan menderita
anemia. Hal ini dikarenakan singkong mengandung sianida
yang bersifat toksik dalam tubuh manusia. Konsumsi tapai dapat mencegah
terjadinya anemia karena mikroorganisme yang berperan dalam fermentasinya mampu
menghasilkan vitamin B12
Kelemahan tapai
Konsumsi tapai yang berlebihan dapat
menimbulkan infeksi
pada darah dan gangguan sistem pencernaan. Selain itu, beberapa jenis bakteri
yang digunakan dalam pembuatan tapai berpotensi menyebabkan penyakit pada
orang-orang dengan sistem imun yang terlalu lemah seperti anak-anak balita, kaum
lanjut usia, atau penderita HIV3.
Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, konsumsi tapai perlu dilakukan secara
terkendali dan pembuatannya serta penyimpanannya pun dilakukan dengan higienis.[2]
Istilah
tapai di berbagai daerah
Tapai pulut di Malaysia.
Sebagian besar tapai dibuat dari
fermentasi beras ketan (Oryza sativa) atau singkong (Manihot
esculenta). Masyarakat Jawa Barat lebih mengenal tapai singkong dengan sebutan peuyeum,
sedangkan masyarakat Jawa Timur lebih sering menyebutnya tape puhung.[2] Tapai
ketan dikenal di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara,
dengan nama lokal yang berbeda–beda : tapai pulut (Malaysia),
basi binubran (Filipina), chao (Kamboja),
lao-chao Tionghoa: 醪糟; Mandarin Pinyin:
láozāo;
Jyutping: lou4zou1 atau chiu
niang (Cina),
dan khao-mak (Thailand).[1]
Produk
olahan tapai
Selain dapat dikonsumsi secara
langsung, tapai dapat dijadikan olahan lain atau dicampur dengan makanan dan
minuman lainnya. Tapai pulut menjadi komponen es cendol
dan es campur, atau dapat juga diolah kembali menjadi wajik dan dodol. Tapai singkong selain
bisa dijadikan campuran es cendol, es campur atau es doger, dapat pula diolah
menjadi makanan gorengan rondo royal (tapai goreng) dan colenak. Tape
juga nikmat disantap bersama tetel (istilah jawa untuk ulenan ketan
putih) atau di Jawa Barat biasa disebut ulen.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tapai
Tidak ada komentar :
Posting Komentar