Deskripsi
Ronde
Ronde
adalah makanan tradisional China dengan nama asli Tāngyuán (Hanzi=湯圓;penyederhanaan=汤圆; hanyu pinyin=tāngyuán).
Nama tangyuan merupakan metafora dari reuni keluarga (Hanzi=團圓;penyederhanaan=团圆)
yang dibaca tuányuán (menyerupai tangyuan).
Perkembangan
sejarah
Asal mula
Menurut legenda [2],
di masa Dinasti Han,
terdapat seorang dayang kerajaan bernama Yuanxiao. Ia sangat merindukan kedua
orang tuanya tetapi tidak dapat meninggalkan istana, akhirnya ia terus menangis
dan ingin bunuh diri. Seorang menteri yang mengetahu hal tersebut berjanji akan
menolongnya. Apa yang perlu dilakukan Yuanxiao adalah membuat Tangyuan sebanyak
mungkin (yang merupakan masakan terbaik yang bisa ia buat) sebagai persembahan
kepada dewa di tanggal 15 bulan 1 Imlek. Yuanxiao berhasil melakukannya
dan sang kaisar merasa puas. Yuanxiao diizinkan bertemu kedua orang tuanya.
Semenjak saat itu, pada tanggal 15 bulan 1 penanggalan Imlek diadakan Festival
Yuanxiao atau Festival Lampion.
Menurut catatan sejarah, tangyuan telah menjadi
camilan populer di China semenjak Dinasti Sung.[3]
Nama
Berbagai nama digunakan untuk merujuk ronde
berdasarkan catatan sejarah. Pada masa Kaisar Yongle
dari Dinasti Ming,
nama yang digunakan adalah yuanxiao (dari Festival
Yuanxiao), nama yang digunakan oleh penduduk China bagian utara.
Nama tersebut secara harafiah berarti "malam pertama", merujuk pada
bulan purnama pertama setelah Tahun Baru
Imlek.
Penduduk China bagian selatan menyebutnya tangyuan
atau tangtuan.[1]
Legenda mengatakan bahwa pada masa pemerintahan Yuan Shikai
(1912-19160, ia tidak menyukai nama yuanxiao (元宵) karena terdengar seperti (袁消) "menggeser Yuan", jadi
ia memberi perintah untuk mengubah namanya menjadi tangyuan.[4]
Nama tersebut memiliki arti "bola bulat dalam sup". Menurut dialek Hakka dan Kanton (dua dialek besar di China bagian
selatan), "tangyuan" diucapkan sebagai tong rhen dan tong
jyun. Istilah "tangtuan" (Hakka: tong ton, Kanton: tong
tyun) tidak terlalu sering digunakan.
Perbedaan
geografi di China
Penduduk China utara makan yuanxiao sementara penduduk
selatan makan tangyuan. Meskipun bentuknya sama, rasanya dapat sedikit berbeda
karena perbedaan selera. Penduduk selatan menyukai tangyuan yang diberi isi
yang manis, antara lain adalah gula, wijen, bunga osmanthus, pasta kacang
manis, dan manisan kulit jeruk. Penduduk utara lebih menyukai isi yang asin:
daging giling dan sayuran.[5]
Selain Yuan Shikai mengganti nama “yuanxiao”, sebagaimana ditulis oleh Yu
(2002), sebenarnya yuanxiao dan tangyuan cukup berbeda cara pembuatannya.[6]
Menurut Hao (2009), penduduk utara membuat yuanxiao dengan cara memadatkan isi
hingga berbentuk bulat kemudian menggulirkannya di atas keranjang yang diisi
tepung ketan, sambil terus memerciki dengan air sampai bentuk bola terbentuk.[7]
Sebaliknya, Hao (2009) menyebutkan bahwa penduduk selatan membuat tangyuan
dengan cara membuat adonan tepung ketan menjadi bentuk bola dengan isi berada
di tengahnya.[7]
Kultur
budaya
Bagi masyarakat China di China daratan maupun di
seberang laut, tangyuan (ronde) selalu dimakan bersama-sama sekeluarga. Bentuk
tangyuan yang bulat dan mangkuk yang bundar melambangkan kebersamaan keluarga.[1]
Komposisi
dan penyajian
Komposisi
Ronde (dan tangyuan) meskipun awalnya adalah makanan
yang dikonsumsi saat festival, sekarang telah menjadi jajanan yang dikonsumsi
kapanpun sepanjang tahun. Misalnya, tangyuan secara tradisional berwarna putih,
tetapi untuk menarik konsumen, penjual biasanya memberi rasa atau warna yang
berbeda, misalnya diberi isi cokelat, kentang tumbuk, atau pasta labu kuning.
Penduduk China utara biasanya mencampur wijen, kacang,
dan pasta kacang manis untuk isinya. Ukuran tangyuan
dari selatan biasanya lebih besar.[1]
Isi manis biasanya:
- Sepotong permen gula tebu
- Pasta wijen (biji wijen hitam ditumbuk dicampur gula dan lemak) - isi paling umum untuk tangyuan
- Pasta kacang merah
- Kacang (atau mentega kacang) dirajang (atau ditumbuk) dengan gula
Penyajian
Tangyuan pertama kali direbus dalam air kemudian
disajikan dengan kuah sup. Tangyuan yang diberi isi manis (ronde) disajikan
dengan kuah jahe yang diberi sirup. Tangyuan yang tidak diberi isi juga
disajikan sebagai makanan penutup berupa sup manis (dikenal di Kanton sebagai tong
sui yang secara harafiah berarti air gula). Jenis yang umum antara
lain:
- Sup kacang merah
- Sup wijen hitam
- Jahe dan gula batu
- Jiuniang (ketan terfermentasi; 醪糟 atau 酒釀), bunga Osmanthus, dan gula batu.
Makanan
sejenis
Vietnam
Pada Vietnam selatan, makanan sejenis bernama chè xôi nước disajikan
dengan cairan manis serta parutan jahe. Pada Vietnam utara, bánh trôi
(juga disebut bánh trôi nước) dan bánh chay juga sangat
mirip, tetapi bánh chay disajikan dengan santan.
Filipina
Ginataang bilo-bilò disajikan
dengan santan, dan terkadang disajikan dengan produk lokal seperti sabà,
tapioka,
dan atau ubi jalar.
Ronde di
Indonesia
Ronde merupakan tangyuan yang telah bercampur dengan
budaya masing-masing daerah atau selera lokal. Cara pembuatannya mirip dengan
pembuatan tangyuan oleh penduduk Cina bagian selatan, diisi kacang manis
tumbuk, dan disajikan dengan air jahe. Istilah Wedang Ronde merujuk pada
air jahe panas (wedang adalah bahasa Jawa yang merujuk pada minuman
panas) yang disajikan bersama dengan ronde. Air jahe juga bisa menggunakan gula
kelapa, diberi taburan kacang tanah goreng (tanpa kulit), potongan roti, kolang-kaling,
dan sebagainya. [8]
Wedang Ronde sudah sangat umum bagi masyarakat Indonesia sehingga banyak yang
mengira bahwa asalnya adalah asli dari Indonesia.
Sebagian warga China di Indonesia membedakan tangyuan
dan yuanxiao sebagai berikut. Tangyuen adalah ronde tanpa isi (disajikan dengan
air jahe manis) yang dikonsumsi pada tanggal 22 Desember, sementara yuanxiao
adalah ronde dengan isi manis (disajikan dengan kuah tawar) yang dikonsumi pada
purnama pertama pada tahun baru Imlek.
Di Pulau Bangka, tangyuan dinamakan "siet
yen", yang dibuat dari ketan atau ubi yang disajikan dengan kuah dari gula
aren atau jahe.[9]
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ronde_%28makanan%29
Tidak ada komentar :
Posting Komentar